Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat pagi, Siang!

Pukul 12. Sudah sangat siang untuk memulai hari. Setengah jam kuhabiskan hanya untuk membuka semua medsosku, memeriksa pesan, dan keadaan diluar sana. Sebelum aku ikut bergabung dengan sibuknya dunia hari ini. Ah kebanyakan mengenai urusan penelitianku yang belum kunjung beranjak jauh. Sisanya jejak-jejak kesibukan manusia lain yang sudah lebih dulu memulai harinya dibanding aku, dan ulang tahun teman sekaligus saudaraku di kota ini, ya setidaknya seperti itulah aku menganggap dia. Kuucapkan sekedarnya saja, karena aku sendiri adalah orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan tradisi pengulangan tahun yang menandai penambahan umur ini. Dengan lampu kamar yang masih dalam keadaan mati, kucoba beranjak melawan kuatnya gravitasi kasurku hari ini. Kuambil sisa kue yang kubeli tengah malam tadi, yang seperti biasanya selalu berlebihan. Malam tadi aku ke cikutra, hanya untuk membeli kue ini. Selain tentunya membuang pikiranku yang sudah berhari-hari ini hanya menunjukkan silu...

Ia

Bapa Engkau mengenalku Lebih dari siapa pun Engkau tahu ceritaku Dan isi hatiku Tak peduli masa lalu Engkau tetap memilihku Ubahkanku, sempurnakan Jadi karya yang indah Kini aku percaya Tiada yang mustahil bagi-Mu Kuasa-Mu, kuatkanku Dasar kuberharap Kini aku berserah Pada rancangan-Mu bagiku Kuikuti panggilan-Mu Ku kan setia Sampai akhir hidupku Aku kan setia pada-Mu, Yesus Aku kan setia, untuk panggilan-Mu padaku Kini aku percaya tiada yang mustahil bagi-Mu Kuasa-Mu kuatkanku, dasar ku berharap Kini aku berserah pada rancangan-Mu bagiku Kuikuti panggilan-Mu ku kan setia sampai akhir hidupku Kuikuti panggilan-Mu ku kan setia sampai akhir hidupku Headset terpasang dikedua telingaku, terhubung ke sebuah laptop yang sudah menemaniku kurang lebih 3 tahun ini. Dengan sengaja aku memutar (kembali) sebuah lagu yang selalu berhasil membuatku terdiam dan  mengajakku untuk merenungi bait demi bait bahkan sampai pada setiap kata demi kata yang tersurat dari untaian liri...

UNTUK AKU

Munculnya kamu dalam peraduan hidup. Mengejutkanku akan alur takdir. Berdiam kamu dalam pagi yang dingin. Menanti surya yang kan meninggi. Baik-baik saja, Ia. Merasakan hangat mentari. Menikmatinya. Cukup lama, sampai meninggi sang surya. Mulai beranjak, mencoba properti hidup yang dihadiahi takdir. Satu persatu, hingga dua tiga dan selanjutnya. Mulai bermain, memunculkan gambar dalam anganmu. 60 derajat diufuk timur sana cahaya memantau. Menjadi saksi bangunnya ambisi tak terarahmu. Buah sekitar yang menusuk dalam pikirmu. Terasa luas, namun sempit. Sungguh. Tertutup segala batas. Dikelilingi kebiasaan. Sampai kamu punya asa. Siap tuk dituliskan. Tinta hidup yang masih cukup. Ujung pena yang siap digoreskan. Mulai dari mana? tak ada yang arahkan. Kamu bingung, aku dan ia hanya mengikutimu. Sampai tepat diatas kepala. Nafas terengah. Mata yang menyayu. Bukan. Bukan karena waktu. Karena memang belum waktunya. Takdir yang bias, jiwa yang buta. Ya! karena i...

Vanadium

Kau adalah Vanadiumku. Kuat, tangguh tak terhancurkan. Kau adalah Vanadiumku. Saat yang lain sekedar menebar manis, Kau hadir sebagai penawar yang ampuh, membantu insulinku bekerja lebih tangguh, hingga aku tetap utuh disampingmu. Kau adalah Vanadiumku. Rapuh, ketika hanya berdiri sendiri. Tapi akulah Ferrummu. Yang ketika kita berpadu, menjadi jauh lebih tangguh. Kau adalah Vanadiumku. Yang menjadi penyebab tingginya resiko terluka ku. Saat kau diambil oleh zat yang salah. Meski itu kau anggap aspirin sekalipun. Bandung, 8 Februari 2019.

WAKTU

Suatu kali, ketika aku masih kecil, ntah usia berapa, mungkin disekitar 5-7 tahun, kalau aku tidak lupa dan menjadi salah, pernah suatu kali aku berpikir, tidak terlalu serius, hanya berlagak serius tentunya, seperti mereka-mereka yang pada waktu itu  mengandalkan sisi serius menjadi sudut pandang kehormatan, dalam pikirku aku bertanya, akan jadi apa aku kelak ketika sudah besar, dan bagaimanakah aku nanti?. Ah, tidak usah terlalu serius mengenai jawabnya, karena pasti semua seperti templete kanak-kanak yang termindset pada saat itu. Beberapa tahun kemudian, mungkin diusia 12 tahun, kembali dalam pikirku aku bertanya, akan seperti apa aku besar nanti? jadi apa? bagaimana?. Dan kali ini aku berani menjamin, pasti terjadi sedikit perubahan bayang mengenai apa aku saat besar, dibanding ketika aku memikirkan diusia 7 tahun tadi. Mau bukti? tidak usah, aku juga sudah lupa. Kemudian di tahun-tahun berikutnya semakin sering aku bertanya pada diriku, mengenai akan seperti apa aku...

SELAMAT ULANG TAHUN OKTA!!

Teruntuk adekku, Heber Oktavianus Hari itu, seperti biasanya, subuh pukul setengah 6 aku sudah terbangun untuk lari pagi bersama bapak, mama dan kakakmu tia. Langit yang masih belum terlalu terang karena matahari baru saja terbit, dan pepohonan yang menghampat rimbun disepanjang jalan by pass memberi asupan udara segar untuk paru-paru. 10 menit kami berlari-lari kecil, saat itu juga mama minta untuk balik duluan, perutnya besarnya yang menampung sesosok anak manusia terasa kurang nyaman. Siapa sangka, itu menjadi pertanda akan bertambahnya anggota keluarga kecil nan damai ini. Pagi itu, aku pergi sekolah seperti biasa, namun sedikit cemas. Walau rasa cemas tersebut perlahan lenyap seiring senda gurau dan waktu yang kuhabiskan bersama teman masa kecil ku disekolah, sampai siang yang menyapa pertanda haruslah aku pulang. Siang yang cerah di Senin, 13 Oktober 2003, sesampainya dirumah, statusku berubah menjadi seorang anak pertama dengan 2 adik. Pikiranku lansung melayang, begitu t...

Harga sebuah nafas

Laptop udah mati dan terlipat kurang lebih 3/4 jam yang lalu. Suara motor dan mobil sudah mulai senyap, menanda hari sudah masuk pukul 10 malam. Sheilla on 7, Samsons, Bondan dan beberapa lagu dari band-band jaman smp-sma ku terdengar dari handphone oppo berusia 1 setengah tahun ini. Niat ku ingin tidur lebih awal setelah belajar tadi, urung seketika saat aku membaca deretan postingan di Instagramku. "Turut Berduka Cita", headline yang banyak muncul saat itu. Sebelumnya, hari ini ada 4 berita besar yg meramaikan timelineku, dari politik dan olahraga, salah satunya "derby" klasik sepakbola negeri ini, Persib melawan Persija, yang memang euforianya begitu terasa dikota ini. Awalnya tak ada yg lebih dari event tersebut, dimana pertandingan berakhir dengan kemenangan tim kota ku. Namun, detik ketika aku membaca berbagai postingan duka tersebut, memberitahukan bahwa "ada yang lebih besar" daripada kemenangan itu. Yak, ucapan duka tersebut ternya...