Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat Ulang Tahun Dani

10.27 malam, belum terlambat untuk sekedar menulis ungkapan syukurku atas bertambahnya usia adik bungsuku. Daniel Triputra Aritonang, atau Dani biasa ia dipanggil, 15 tahun lalu disuatu sore yang ditemani hujan yang cukup deras, kabar kelahiranya kuterima dengan sukacita, Lelaki ketiga di persaudaraan ini, dan menjadi yang bungsu bagi empat bersaudara kami. Tahun demi tahun ia tumbuh menjadi seorang anak yang baik, cerdas dan berisik. Ya berisik, yang menjadi pembeda hadirnya ia di rumah ini. Transformasi yang begitu nyata terpampang dihadapanku, dari sosok anak kecil yang imut, cengeng, menjadi seorang anak yang tinggi dan ceria. Kesayangan mama bapak, dan kami abang kakaknya. Harapan semua anggota keluarga yang memang salung mengaitkan harap satu sama lainnya. Sosok yang paling mirip dengan rupaku diusia kanak-kanaknya. Sosok yang paling pemberani menghadapi orang luar diantara saudaranya, sekaligus yang paling penakut berkenaan hak-hal mistik tak masuk akal. Selamat ulan...

berlalu

Sekarang pukul 7.39 malam tanggal 28 Mei 2020, itu berarti udah lebih dari setahun lalu aku terakhir kali nyoret-nyoret di blog ini. Sedikit kaget, karena diri ini merasa belum terlalu lama. Memang ya waktu itu bisa berjalan semakin cepat disaat usia kita juga yang bertambah. Dulu kalau diingat-ingat untuk membalikkan lembar kalender bulanan  rasanya lebih lama dibanding mengganti utuh kalender tahunan sekarang. Entah hanya aku yang merasa demikian atau yang lain juga. Tapi kalau direnungi, hal ini sangat menyedihkan. Setidaknya bagi aku pribadi, aku merasa belum maksimal menghidupi waktu-waktuku yang telah lalu. Ya memang manusia tidak ada puasnya, selalu merasa kurang. Otakku yang yang suka mengenang ini kembali mengajak hatiku yang perindu untuk bernostalgia bersama, merenungi masa lalu yang terasa begitu cepat berjarak dari aku. Kulihat sekelilingi rumahku, yang ternyata sudah 18 tahun aku tempati, lingkungan yang sama namun kondisi yang jauh berbeda. Kulihat jalanan dep...

Harapan

Harapan  [ha·rap·an] -  bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pernahkah kau berharap? tentu pernah, tak usah kau menghindari jawab iya untuk pertanyaan itu. Semua orang pernah berharap, dan semua orang berhak untuk berharap. Harapan menjadi jalan bagi banyak umat manusia untuk dapat menyusuri hidupnya, harapan menjadi alasan bagi hampir semua orang untuk bersemangat dalam menjalani hidupnya.  Harapan menjadi kosa kata universal, yang dapat diamini oleh semua jenis orang dimuka bumi ini, darimana pun asalnya, apapun kepercayaannya, hingga yang memilih untuk tak percaya sekalipun. Dengan memiliki harapan, ada tujuan dalam menjalani hidup ini. Setiap harapan, memiliki dasar yang membangkitkannya, yang menjadi topangan berdirinya. Setiap orang tentu memiliki alur yang berbeda dalam memunculkan harapan ini didalam dirinya. Mungkin sebagian dapat berharap hanya kare...

Berubah?

Hujan selalu berhasil membawaku untuk merenung. Apapun, mengalir seperti derasnya air yang turun dari atas sana, menggenang dan membuatku kembali mengenang. Sebelum kutuliskan renunganku itu, izinkan aku membawamu masuk kedalam ceritaku terlebih dahulu, agar kau merasa ada disisiku mengamatiku dan ceritaku. Ini hari ke 8300an yang kulalui dalam hidup ini. Kuhabiskan hariku ini dengan berbagai hal. Ujian dipagi hari, bersosialisasi bersama makhluk-makhluk lab yang sudah menemaniku lebih dari setengah tahun ini, mengurusi beberapa urusan administrasi perihal penelitianku, bermain video game bersama teman sejawat, hingga melanjutkan penelitianku yang sudah 2 bulan ini tidak berprogress jauh. Tentu semua tidak kulakukan secara bersamaan. Semua bergantian, hingga akhirnya malam tiba. Kusegerakan menyelesaikan agendaku di lab pada hari itu, tersisa aku sendiri didalamnya, hingga tepat saat aku akan beranjak, tiba 2 orang lain yang sepertinya akan lembur malam ini. Kusampaikan kata ...

Hujan 60 menit

Tadi siang aku sedang dalam perjalanan menuju ke Cihapit, sampai butiran air tiba-tiba turun dari atas dan membubarkan keramaian di jalanan Surapati. Beberapa motor tampak tetap melanjutkan lajunya, ah ternyata mereka sudah lebih siap menggenakan jas hujan untuk menutupi tubuh mereka terlebih dahulu sebelum rintik ini datang. Selebihnya yang tampak tetap melaju adalah mobil-mobil pribadi dan beberapa bus pariwisata yang cukup lumayan jumlahnya hari itu. Kuputuskan menepi disebuah gerbang masuk sebuah kantor yang cukup besar dan tentunya teduh. Sudah terdapat puluhan motor terparkir didepannya, memaksaku memarkirkan motorku sedikit lebih ketengah bahu jalan. Hujan siang itu sangat deras, cukup untuk mengalirkan debit air yang besar dan menutupi permukaan-permukaan yang sedikit lebih rendah dibanding sekitarnya. Kupilih tempat yang agak tinggi, agar sepatuku aman dari genangan air tersebut. Semakin lama tempat tersebut semakin ramai saja, dan sekilas jalanan yang tadinya penuh kendar...

Selamat pagi, Siang!

Pukul 12. Sudah sangat siang untuk memulai hari. Setengah jam kuhabiskan hanya untuk membuka semua medsosku, memeriksa pesan, dan keadaan diluar sana. Sebelum aku ikut bergabung dengan sibuknya dunia hari ini. Ah kebanyakan mengenai urusan penelitianku yang belum kunjung beranjak jauh. Sisanya jejak-jejak kesibukan manusia lain yang sudah lebih dulu memulai harinya dibanding aku, dan ulang tahun teman sekaligus saudaraku di kota ini, ya setidaknya seperti itulah aku menganggap dia. Kuucapkan sekedarnya saja, karena aku sendiri adalah orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan tradisi pengulangan tahun yang menandai penambahan umur ini. Dengan lampu kamar yang masih dalam keadaan mati, kucoba beranjak melawan kuatnya gravitasi kasurku hari ini. Kuambil sisa kue yang kubeli tengah malam tadi, yang seperti biasanya selalu berlebihan. Malam tadi aku ke cikutra, hanya untuk membeli kue ini. Selain tentunya membuang pikiranku yang sudah berhari-hari ini hanya menunjukkan silu...

Ia

Bapa Engkau mengenalku Lebih dari siapa pun Engkau tahu ceritaku Dan isi hatiku Tak peduli masa lalu Engkau tetap memilihku Ubahkanku, sempurnakan Jadi karya yang indah Kini aku percaya Tiada yang mustahil bagi-Mu Kuasa-Mu, kuatkanku Dasar kuberharap Kini aku berserah Pada rancangan-Mu bagiku Kuikuti panggilan-Mu Ku kan setia Sampai akhir hidupku Aku kan setia pada-Mu, Yesus Aku kan setia, untuk panggilan-Mu padaku Kini aku percaya tiada yang mustahil bagi-Mu Kuasa-Mu kuatkanku, dasar ku berharap Kini aku berserah pada rancangan-Mu bagiku Kuikuti panggilan-Mu ku kan setia sampai akhir hidupku Kuikuti panggilan-Mu ku kan setia sampai akhir hidupku Headset terpasang dikedua telingaku, terhubung ke sebuah laptop yang sudah menemaniku kurang lebih 3 tahun ini. Dengan sengaja aku memutar (kembali) sebuah lagu yang selalu berhasil membuatku terdiam dan  mengajakku untuk merenungi bait demi bait bahkan sampai pada setiap kata demi kata yang tersurat dari untaian liri...